Suasana demokratis menyelimuti MTs Negeri Surakarta 1 pada Selasa (22/9/2026). Melalui program kokurikuler bertema “Pemilu Raya Tahun Ajaran 2026/2027”, madrasah ini sukses mengemas pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIM menjadi sarana pembelajaran lintas disiplin ilmu yang nyata dan edukatif. Istimewanya, kegiatan yang diikuti oleh 319 siswa kelas VIII di Aula Gedung 1 ini juga menghadirkan tim Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surakarta sebagai narasumber utama.
Melalui rangkaian Pemilu Raya ini, para siswa tidak hanya diajarkan teori Pendidikan Pancasila di dalam kelas, tetapi juga langsung mempraktikkan proses demokrasi lengkap dengan bilik suara, kotak suara, hingga peran petugas KPPS. Para calon pengurus OSIM diajak mengasah kemampuan bahasa dan literasi melalui penyusunan visi-misi serta orasi debat yang santun. Sementara itu, tim KPU Surakarta membekali siswa dengan pemahaman teknis pemungutan suara, pentingnya mengoperasikan hak pilih, dan bahaya sikap GolPut sejak dini.
Kepala MTsN Surakarta 1, Nurul Qomariyah menegaskan pentingnya pengalaman langsung ini bagi tumbuh kembang karakter peserta didik. “Anak-anak tidak hanya belajar tentang demokrasi dari buku, melainkan mengalaminya secara langsung, sehingga mereka dapat belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, kepemimpinan, dan cara menghargai perbedaan pilihan,” tegas Nurul Qomariyah di hadapan para siswa.
Semangat pembentukan karakter tersebut juga diamini oleh fasilitator kokurikuler kelas VIII, Ibu Indah. Beliau berharap nilai-nilai yang dipelajari hari ini tidak berhenti sebagai teori semata, melainkan tertanam kuat dalam kepribadian siswa. “Agar nilai demokrasi tetap melekat di dalam diri, tidak hanya lewat pada otak siswa setelah pembelajaran, tapi bener-bener melekat dalam hati. Nilai-nilai demokrasi kan berarti ada tanggung jawab, bekerja sama, kekompakan, kejujuran itu dapat terimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Indah.
Dampak positif dari sosialisasi ini dirasakan langsung oleh para siswa. Makayla, siswi kelas 8 Sains 6, mengaku mendapatkan banyak pandangan baru mengenai tata cara memilih pemimpin yang bijak.
“Kita dapat mempelajari dan mengetahui terdapat 8 jenis pemilu dan tidak boleh menjadi Golongan Putih. Selain itu, dalam memilih pemimpin harus dipertimbangkan visi dan misi serta tidak boleh memilih hanya karena memiliki hubungan dekat dengan kita,” ungkap Makayla.
Pihak KPU Kota Surakarta turut memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif MTsN 1 Surakarta yang berhasil memadukan literasi, numerasi, dan praktik warganegara dalam satu agenda terpadu.
“Ini adalah contoh nyata pendidikan demokrasi sejak dini. Siswa tidak hanya menjadi pemilih yang cerdas di masa depan, tetapi juga belajar literasi, numerasi, dan kolaborasi dalam satu kegiatan. Ini bekal penting menjadi warga negara yang bertanggung jawab,” puji Bambang Christanto, Wakil Ketua Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kota Surakarta.
Melalui pendekatan berbasis proyek ini, MTsN Surakarta 1 membuktikan bahwa teori pembelajaran akan jauh lebih bermakna ketika dipraktikkan secara nyata. Langkah ini diharapkan mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki integritas dan kepedulian tinggi terhadap masa depan bangsa.













