Pendidikan merupakan pondasi dasar bagi kehidupan manusia. Pendidikan tidak melulu soal nilai akademik, seperti nilai matematika, fisika dan sebagainya, namun juga bagaimana cara kita membentuk kepribadian serta karakter seseorang. Nilai akademis bukanlah acuan dalam menilai seseorang. Seringkali paradigma seperti inilah yang banyak mengakar pada masyarakat. Melainkan pendidikan karakterlah yang menjadi target penting dalam keberhasilan seorang orang tua dalam mendidik seorang anak. Penanaman karakter sejak dini sangat penting agar anak menjadi pribadi yang baik budi pekerti dan penuh ketakwaan.
Pendidikan karakter tidak sama seperti pelajaran yang biasa seorang siswa dapatkan di sekolah, melainkan ialah sebuah pembelajaran yang teraplikasi dalam semua kegiatan siswa, baik di sekolah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan rumah melalui proses pembiasaan, keteladanan, dan dilakukan secara berkesinambungan. Pendidikan karakter tidak terlepas dari nilai-nilai keagamaan. Sebuah pepatah mengatakan “ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Konsep pendidikan inilah yang telah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Hal ini terbukti dari perintah Allah bahwasannya tugas pertama dan utama Rasulullah adalah sebagai penyempurna akhlak umatnya.
Kesadaran akan seberapa pentingnya nilai-nilai karakter keagamaan dapat memacu keimanan dan ketakwaan sebagai sarana perubahan ke arah yang lebih baik, juga sebagai bekal seseorang dalam menyongsong masa depannya. Selain itu pendidikan karakter jugalah kunci keberhasilan. Seperti yang kita ketahui, sistem ajaran Islam dikelompokkan menjadi tiga, yaitu aqidah (keyakinan), syariah (aturan-aturan hukum tentang ibadah dan muamalah), dan akhlak (karakter).
Akhlak atau karakter dalam Islam adalah sasaran utama dalam pendidikan.Pendidikan karakter keagamaan diharapkan mampu menciptakan generasi berilmu tinggi yang dibekali iman, takwa, dan berakhlak mulia sesuai dengan etika serta moral agama dan masyarakat. Generasi tersebut juga diharapkan mampu menghadapi tantangan zaman dan perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam lingkup sempit maupun luas, dan menjadi manusia yang menjadi teladan bagi sesama. Oleh karena itu, seorang guru dan orang tua selalu memberikan contoh yang baik untuk anak- anaknya baik secara lisan maupun perbuatan. (Jauharul Fuad Rohas)
PENDIDIKAN KARAKTER (CHARACTER BUILDING)
Pelantikan dan Penugasan Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri Surakarta 1
Selamat
Atas Pelantikan dan Penugasan Dra. Nurul Qomariyah,M.Pd. di MTsN Surakarta 1
PMR MTsN Surakarta 1 Bagikan Ratusan Paket Makanan di Bulan Sya’ban
PMR MTsN Surakarta 1 Bagikan Ratusan Paket Makanan di Bulan Sya’ban
Surakarta- Palang Merah Remaja (PMR) MTsN Surakarta 1 menggelar bakti social pada Ahad, (6/3/2022). Kegiatan bakti social merupakan agenda rutin yang dilakukan oleh anggotaPMR MTsN Surakarta 1 dan dilaksanakan sejak tahun 2000-an. Kegiatan ini dilakukan di sekitar lingkungan madrasah dengan membagikan 200 paket makanan. Setiap paket berisi 1 dus makan siang, 1 dus snack, dan 1 gelas minuman. Karena masih masa pandemi, maka kegiatan ini tetapmenerapkanprotokolkesehatan yang ketat. Sebanyak 30 anggota PMR yang dipiliholeh Pembina PMR dan terdiri dariketua, wakil, dananggota PMR kelas 7 dan 8. Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk melatih karakter, memiliki jiwa social dan melatih anak agar berbuat baik kepada sesama.
Acara ini digelar pada bulanSya’ban yang merupakan bulan mulia, karena berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Sya’ban adalah bulan latihan, pembinaan dan persiapan diri supaya menjadi orang yang sukses beramal shalih di bulan Ramadhan. Adapun amalan-amalan yang bisa kita lakukan pada bulanSya’ban yaitu memperbanyak shalawat serta berpuasa, perbanyak istighfar, dan berdoa karena didalamnya terdapat malam NisfuSya’ban. Salah satu amalan yang tak boleh dilupakan di bulan Sya’ban ini adalah sedekah. MTsN Surakarta 1 pun memilih bulan Sya’ban untuk berkegiatan baktisosial sebagai ajang pembentukan karakter bulan Ramadhan.
“Di tahun tahun sebelumnya kegiatan bakti social ini dinamakan dapur umum, berhubung sudah dua tahun pandemic belum mereda sehingga kegiatan ini diganti dengan baktisosial” tutur Dewi Nurjannah selaku pembina PMR MTSN Surakarta 1. “Kegiatan dapur umum adalah kegiatan menyiapkan makanan dari mulai memasak sampai dengan menyajikan di daerah bencana. Kalau dapur umum di MTsN Surakarta 1 hanya memasak makanan kemudian dibagikanuntukwargasekitarMTsN Surakarta 1” sambungbeliau.
Kami juga mewawancarai Se
nArdan selaku pembina PMR MTSN Surakarta 1 mengenai kegiatan bakti sosial. “Tidak ada hambatan, hanya saja takut jika makanannya kurang pada saat dibagi-bagikan” ujar beliau. Alhamdulillah makanan yang dibagikan kurang dan cukup untuk warga sekitar MTsN Surakarta 1.
“Alhamdulillah…saya sangat bangga menjadi anggota PMR MTsN Surakarta. Saya merasa banyak hal yang saya dapatkan setelah mengikuti kegiatan PMR. Di PMR kami diajarkan melaksanakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan di bidang kesehatan dan siaga bencana. Dengan kegiatan tersebut dapat membangun dan mengembangkan karakter kepalangmerahan agar siap menjadi relawan PMI di masa depan, “tutur Hanin, anggota PMI.
(Annisa-Naddiya/Diana)
Pentingnya Variasi Kegiatan Belajar Mengajar di Masa Pandemi
Pentingnya Variasi Kegiatan Belajar Mengajar di Masa Pandemi
Afair Chilia Dharmawati
Abstrak
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dalam situasi normal (pra pandemi) sudah tentu memiliki tantangannya tersendiri, baik dari sisi guru maupun dari sisi peserta didik. Guru dan peserta didik memiliki kepentingan untuk melakukan transfer ilmu pengetahuan dengan baik. KBM di masa pra pandemi yang terpusat di sekolah menempatkan guru dan peserta didik dalam suasana pembelajaran yang bisa dikatakan kondusif. KBM dalam masa pandemi menambahkan tantangan-tantangan baru bagi guru dan peserta didik, terutama karena hampir seluruh kegiatan beralih menjadi berbasis daring. Situasi yang kondusif tidak lagi mudah untuk diperoleh. Guru dan peserta didik tidak lagi ada dalam suasana akademik yang sama. Hal ini menjadi tantangan yang lebih berat bagi guru untuk setidaknya mampu menarik minat belajar dan keaktifan peserta didik dengan latar belakang suasana dan kondisi lingkungan yang lebih bervariasi, tanpa mengesampingkan pentingnya akses teknologi maupun kemampuan mengaplikasikan teknologi dengan baik. Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam tulisan ini adalah bahwa guru memiliki tanggung jawab untuk menyajikan materinya menjadi lebih menarik, interaktif, dan «engaging» dibandingkan pada masa pra pandemi.
Kata Kunci: KBM, pembelajaran, minat belajar, pandemi, daring
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah salah satu pilar penting bagi sebuah bangsa untuk berkembang dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Bangsa Indonesia dengan jelas menetapkan pendidikan sebagai salah satu tujuan utama dalam pendirian negara. Hal tersebut dituliskan dalam pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan tentang tujuan pendidikan nasional, yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Secara individual, pendidikan menjadi salah satu bentuk investasi yang paling menjanjikan untuk masa depan.
Sebelum tahun 2020, pra pandemi Covid-19, kita sudah memiliki sistem pendidikan nasional yang cukup konsisten. Setiap sekolah memiliki acuan kurikulum yang seragam. Setiap sekolah berlomba-lomba untuk mengimplementasikan kurikulum dan kegiatan pendukungnya dengan baik dengan berbagai macam keunikan dan variasi di sekolah. Bisa dikatakan, setiap sekolah akan menitikberatkan pada peningkatan kualitasnya secara inkremental dari tahun ke tahun. Demikian halnya juga dengan para guru, setiap kegiatan belajar mengajar (KBM) adalah bentuk dari perbaikan berkelanjutan dari KBM sebelumnya. Setiap sekolah, guru, dan siswa sudah memiliki pemahaman mengenai peranan masing-masing dalam proses KBM.
Pada masa pandemi Covid-19, tuntutan untuk keluar dari zona nyaman bagi sekolah, guru, dan siswa benar-benar nyata. Pembatasan kegiatan tatap muka, akselerasi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, dan peningkatan frekuensi kegiatan daring serta interaksi jarak jauh mendorong sekolah, guru, siswa, dan para pemangku kepentingan untuk beradaptasi dalam waktu singkat. Tantangan untuk setidaknya mempertahankan kualitas pendidikan yang selama ini terbentuk melalui proses KBM di kelas membutuhkan kreativitas lebih dari semua pihak.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pentingnya variasi KBM di masa pandemi pada kelas 7 FD 1, 7 FD 2, dan 7 FD 3 di MTsN 1 Surakarta.
TINJAUAN PUSTAKA
Belajar dan pembelajaran adalah kegiatan penting yang saling terkait dalam pendidikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), belajar memiliki arti: (1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; (2) berlatih; dan (3) berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Ketiga arti tersebut merujuk pada perubahan pengetahuan dan tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar. Proses belajar berjalan setiap saat, karena pada dasarnya setiap individu akan selalu mendapatkan pengalaman dari interaksi dengan individu lain maupun lingkungan sekitarnya. Sementara itu, menurut KBBI juga, pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Pembelajaran menyoroti bagaimana peranan sekolah, guru, bahan ajar, metode, dan interaksi dengan peserta didik yang mendukung dan memotivasi untuk belajar. Kegiatan Belajar Mengajar atau yang biasa disingkat dengan KBM adalah merupakan keterpaduan antara belajar dan pembelajaran. Sekarang ini, KBM menjadi wahana belajar semua unsur yang terlibat di dalamnya, tidak hanya peserta didik yang belajar dari gurunya saja, tetapi juga guru belajar dari peserta didik juga. Kembali ke arti belajar sebagai perubahan perilaku, maka semua unsur KBM bisa dipastikan mengalami proses belajar. Guru akan berusaha membagikan pengetahuannya dan membentuk tingkah laku para peserta didik, sebaliknya umpan balik dan interaksi dengan peserta didik mendorong guru untuk selalu membuat perbaikan berkelanjutan agar KBM selalu efektif dan berhasil baik.
Sekarang ini, daring dan luring menjadi istilah yang sering dijumpai, terutama berkaitan dengan tema pembelajaran di masa pandemi. Daring merupakan singkatan atau akronim dari dalam jaringan, sedangkan luring merupakan akronim dari luar jaringan. Dalam KBBI dijelaskan bahwa daring berarti terhubung melalui jejaring komputer, internet, dan sebagainya; sedangkan luring berarti terputus dari jejaring komputer. Bahasa lain yang mungkin lebih banyak digunakan sebagai penyebutan pembelajaran daring adalah pembelajaran online. Sebelumnya kita mungkin mengenal pembelajaran digital sebagai bentuk pembelajaran awal yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Pembelajaran daring memiliki cakupan yang lebih luas dalam memanfaatkan TIK, tidak hanya sebatas digitalisasi materi maupun media pembelajaran, namun juga mencakup komunikasi dan interaksi antar unsur-unsur dalam KBM menggunakan TIK. Internet memiliki peranan penting dalam konteks daring, sebagai media penghubung yang menyalurkan informasi. Pembelajaran daring biasanya akan mengkombinasikan penggunaan aplikasi maupun sistem yang saat ini banyak digunakan, misalnya penggunaan Learning Management System (LMS) seperti Moodle sebagai portal untuk mengakses materi ajar dan berinteraksi antara guru dan peserta didik; penggunaan aplikasi pertemuan seperti Zoom, Google Meet, Microsoft Teams, dll. untuk merealisasikan kelas daring; penggunaan aplikasi chat atau messaging untuk bertukar pendapat, berdiskusi, menyampaikan pengumuman, maupun berkoordinasi; dan lain sebagainya.
Tahun 2020 merupakan tahun yang penuh tantangan, di mana semua orang di seluruh dunia dihadapkan pada masalah yang sama, yaitu munculnya pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019). Pandemi adalah wabah yang berjangkit secara serempak di mana-mana dan meliputi daerah geografi yang sangat luas. Pandemi Covid-19 muncul pertama kali pada akhir tahun 2019 di Wuhan, China, dan merebak dalam waktu singkat ke seluruh penjuru dunia. Tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi ini mengakselerasi penggunaan TIK, terutama internet, secara masif. Tentu saja berimbas pada penerapan pembelajaran daring yang serentak dilakukan secara nasional dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
METODOLOGI PENELITIAN
Subyek dalam penelitian ini adalah 89 siswa MTsN 1 Surakarta yang terbagi dalam kelas 7 FD 1 berjumlah 30 siswa, kelas 7 FD2 berjumlah 30 siswa, dan kelas 7 FD 3 berjumlah 29 siswa.
Obyek dalam penelitian ini adalah materi pembelajaran Bahasa Inggris secara daring untuk kelas-kelas tersebut beserta variasinya.
Penelitian dilakukan dengan melakukan perencanaan terlebih dahulu terhadap variasi pembelajaran secara daring dan menentukan aspek yang akan diamati dalam penerapannya. Aspek yang diamati dalam penerapan mencakup ketertarikan siswa terhadap materi, keaktifan siswa, dan nilai ulangan harian terkait materi tersebut. Pembelajaran yang dilakukan meliputi 2 (dua) materi ajar dan 2 (dua) ulangan harian.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi pada saat penerapan dan rekapitulasi data nilai ulangan. Perbandingan aspek-aspek subyektif dilakukan dengan membandingkan hasil pengamatan sebelum dan sesudah penerapan variasi. Sementara nilai ulangan dibandingkan secara langsung dari nilai rata-rata, nilai terendah, dan nilai tertinggi dari hasil ulangan sebelum dan sesudah penerapan variasi pembelajaran.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembelajaran variasi satu menggunakan Google Meet, bahan ajar dalam bentuk presentasi Microsoft Power Point, penugasan menggunakan Google Classroom. Metode pembelajaran secara seminar dan diskusi guru dan siswa, serta tugas bersifat asinkron. Berdasarkan pengamatan, keaktifan siswa bisa dikatakan terbatas pada menjawab pertanyaan langsung dari guru, dan hanya beberapa siswa yang aktif menjawab. Kecenderungan untuk bermain aman dan hanya mendengarkan cukup besar. Adapun hasil ulangan harian pada variasi satu adalah sebagai berikut:
- Kelas 7 FD1: nilai rata-rata = 79,09; nilai min = 35; nilai maks = 98
- Kelas 7 FD2: nilai rata-rata = 80,67; nilai min = 50; nilai maks = 98
- Kelas 7 FD3: nilai rata-rata = 76,47; nilai min = 50; nilai maks = 90
Nilai rata-rata keseluruhan adalah 78,74.
Pembelajaran variasi dua menggunakan Google Meet, bahan ajar dalam bentuk presentasi Microsoft Power Point, penggunaan media video YouTube, penggunaan aplikasi Quizizz, dan Whatsapp Group untuk diskusi kelompok. Metode pembelajaran secara seminar, diskusi kelompok, diskusi guru dan siswa, serta menjawab kuis secara realtime untuk mendapatkan pemenang. Berdasarkan pengamatan, keaktifan siswa menjadi lebih merata, terutama dengan adanya pancingan video untuk diskusi dalam kelompok kecil. Setidaknya setiap siswa memiliki kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya dalam kelompok kecil tanpa rasa takut dalam forum besar. Pemanfaatan kuis juga menambah keasikan dalam proses pembelajaran, karena interaksi menjadi semakin menarik. Adapun hasil ulangan harian pada variasi dua adalah sebagai berikut:
- Kelas 7 FD1: nilai rata-rata = 82,87; nilai min = 55; nilai maks = 98
- Kelas 7 FD2: nilai rata-rata = 82,33; nilai min = 50; nilai maks = 98
- Kelas 7 FD3: nilai rata-rata = 82,76; nilai min = 60; nilai maks = 100
Nilai rata-rata keseluruhan adalah 82,65.
Secara umum, materi dan proses pembelajaran yang menyesuaikan dengan perkembangan jaman, terutama trend teknologi, memberikan dampak yang positif dalam proses pembelajaran daring. Nilai rata-rata keseluruhan menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, namun peneliti masih menemukan anomali pada indikator nilai minimal, di mana dalam variasi dua justru mengalami penurunan. Hal ini kemungkinan besar terkait dengan pemanfaatan media pembelajaran daring perlu mempertimbangkan kemudahan akses dan penggunaan.
KESIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasi pembelajaran daring sangat mempengaruhi minat belajar dan keaktifan siswa. Sangat berbeda dengan pembelajaran luring, di mana semua unsur-unsur KBM telah bersiap diri dan berada dalam lingkungan yang sudah terkondisikan untuk melakukan proses pembelajaran, pembelajaran daring memiliki tantangan yang sangat besar di mana guru dan peserta didik mungkin tidak berada dalam situasi, kondisi, dan lingkungan yang sama, yang diharapkan mampu menunjang proses pembelajaran. Guru diharapkan mampu membangun situasi dan kondisi yang kondusif secara virtual, mampu mengikat dan merangsang minat belajar peserta didik dengan lebih kreatif. Penyajian materi bervariasi yang menarik diharapkan mampu mengatasi batasan-batasan nyata yang mungkin dihadapi atau dialami secara langsung oleh peserta didik. Namun perlu juga diwaspadai bahwa penggunaan variasi pembelajaran yang berlebihan justru memberikan efek negatif pada peserta didik, perasaan terbebani yang berlebihan, kegugupan yang berdampak pada sikap pasif, dan lain sebagainya. Di sini sangat penting bagi guru untuk menakar kemampuan siswa dan menjaga keseimbangan proses pembelajaran dalam kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: https://kbbi.kemdikbud.go.id
Nafi’an, H. 2019. Meningkatkan Kemampuan Guru SMA Daerah Binaan di Kabupaten Batang dalam Merancang Pembelajaran Model Team Game Tournament (TGT) Melalui Workshop. Surakarta: CV. Akademika
Nursiyah, Siti. 2014. Analisis Kesulitan Belajar Siswa Kelas III Sekolah Dasar Negeri 171/1 Bajubang Laut. Jambi: Universitas Jambi
Pane, Aprida dan Dasopang, Muh. Darwis. 2017. Belajar dan Pembelajaran. Padang: Fitrah
Boarding School MTsN Surakarta 1 menjadi Daya Tarik Studi Banding MTsN 1 Semarang
MTsN 1 Semarang melaksanakan studi banding ke MTsN Surakarta 1, Sabtu (22/01/2022). Kegiatan ini berlangsung di Gedung Asrama Bait Al-Hikmah dan diikuti oleh 75 orang guru dan karyawan MTsN 1 Semarang dari pukul 08.00-10.00 pagi. Rombongan studi banding disambut dan diterima dengan hangat oleh Kepala Madrasah, wakamad, dan guru karyawan MTsN Surakarta 1. Studi banding ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam tentang pengelolaan asrama dan Program Sains di MTsN Surakarta 1.
“Tujuan kami ke sini untuk mengetahui daya kelola madrasah khususnya untuk boarding school di MTsN Surakarta 1 ini. Kami berharap dengan kegiatan ini, akan menambah wawasan kami untuk mengembangkan asrama kami yang masih baru,” papar Fajar selaku Kepala Asrama MTsN 1 Semarang. Studi banding merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menambah wawasan dan pengetahuan yang akan diterapkan kedepannya untuk menjadi lebih baik. Kegiatan seperti ini tentunya sangat bagus bagi perkembangan suatu kebutuhan yang diharapkan sebagaimana mestinya.
“Mari kita buka kegiatan pagi hari ini dengan membaca basmallah bersama-sama, “ tutur Joko Susilo, Tim kesiswaan MTsN Surakarta 1 selaku pembawa acara. “Setelah, pembacaan ayat suci Alquran akan dilanjutkan sambutan oleh Kepala Madrasah MTsN 1 Semarang, H. Asroni,”tambah Joko. “Kami mendengar, melihat, dan merasakan gelegar MTsN Surakarta 1 ini membahana sampai ke Semarang. Ini tidak dilebih lebihkan, tetapi ini fakta,” tutur Asroni. Ia berharap dari kunjungan ini bisa membawa banyak pengalaman yang dapat dibawa dan dipraktekkan di Semarang. Asroni menyebutkan MTsN 1 Semarang semakin tertarik terhadap MTsN Surakarta 1 setelah mendengar prestasi yang diraih yaitu juara 3 lomba MYRES (Madrasah Young Researchers Super Camp) tingkat nasional.
Setelah sambutan dari Asroni, disambung dengan penjelasan singkat sejarah Asrama Bait Al Hikmah oleh Kepala Madrasah MTsN Surakarta 1. “Sejarahnya dulu diawali dengan studi banding ke Kudus, setelah itu kembali ke madrasah dan berkoordinasi dengan guru-guru MTsN Surakarta 1 untuk dibuatkan asrama. Akhirnya waktu itu hanya ada satu rombel yang berisi 18 anak,” papar Kamad, Kirno Suwanto dalam sambutannya.
Kegiatan setelah sambutan dari kepala madrasah adalah penyampaian program-program asrama Bait Al-Hikmah oleh Ustaz Budi selaku pengelola asrama. Para guru dan karyawan peserta studi banding menyimak dengan antusias. Salah satu guru, tepatnya Kepala Asrama MTsN 1 Semarang mengaku bahwa ia mencari tahu tentang madrasah ini melalui saudara, teman, dan sosial media yang sudah banyak muncul berita tentang prestasi siswa MTsN Surakarta 1. “Saya tahu MTsN Surakarta 1 ini dari saudara, teman, dan pastinya jejaring sosial media yang sudah banyak sekali berita tersebar tentang keunggulan MTsN Surakarta 1 ini, mbak,” jawab Fajar selaku Kepala Asrama MTsN 1 Semarang.Tidak hanya itu, kemegahan gedung MTsN surakarta 1 membuat kagum Muta’allimah selaku waka humas MTsN 1 Semarang. “Pandangan pertama saya saat masuk ke MTsN surakarta 1 adalah gedungnya terlihat asri, klasik namun tertata,” tutur Muta’allimah. Setelah studi banding di MTsN Surakarta 1 ini, MTsN 1 Semarang akan memulai program boarding school tepatnya pada 7 Februari 2022. Acara studi banding ditutup dengan sesi tanya jawab untuk mengetahui lebih lanjut terkait program-program MTsN Surakarta 1 (Jurnalis Mutiara/ Diana).
Ahmad Saifullah : Penyusunan SKP itu Mudah dan Merupakan Suatu Kebutuhan
Ahmad Saifullah : Penyusunan SKP itu Mudah dan Merupakan Suatu Kebutuhan
Surakarta- Drs. Ahmad Saifullah, M.Ag., Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Jateng menjadi narasumber dalam Pembinaan dan Bimbingan Teknis Penyusunan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) tahun 2022 di MTsN Surakarta 1. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu (08/01/2022) dari pukul 13.30-15.30 bertempat di ruang guru dan diikuti 56 ASN. Acara diawali dengan sambutan Kepala MTsN Surakarta 1 dan dibuka oleh Kasi Mapenda Kota Surakarta, Rifhamdani Agam K N, S.H.
“Saya sangat berharap bapak ibu guru ASN mengikuti kegiatan ini dengan sebaik-baiknya. Kegiatan ini sangat penting karena selain ada pembinaan oleh beliau Bapak Kabid juga berisi bimbingan teknis dalam menyusun SKP,“papar Kamad, Kirno Suwanto dalam sambutannya. “Setiap ASN wajib menyusun SKP berdasarkan rencana tahunan instansi yang memuat kegiatan tahunan dan target yang akan dicapai sebagai penjabaran dari sasaran dan program yang telah ditetapkan oleh instansi pemerintah, “tambah Kirno.
Materi yang disampaikan Ahmad Saifullah yaitu tentang gambaran penyusunan SKP terbaru yang terbagi menjadi 2 periode yaitu Januari-Juni dan Juli-Desember. Dalam hal capaian kegiatan tugas jabatan dan targetnya pada SKP periode Januari-Juni tidak dapat diukur dalam kurun waktu Januari-Juni, maka hal tersebut dituangkan kembali dalam periode Juli- Desember mengikuti ketentuan. Hanya saja, peraturan terbaru tersebut belum diberlakukan sehingga peserta bimtek masih dibimbing untuk melakukan praktik penyusunan SKP berdasarkan aturan lama, yakni SKP 1 tahunan.“Bapak Ibu harus bisa mengubah mindset bahwa menyusun SKP itu mudah. Selain mudah juga merupakan suatu kebutuhan. Melalui SKP, Bapak Ibu bisa memasang target dan mencanangkan kapan hendak naik pangkat. Jadi, segala sesuatunya terprogram, tidak dadakan, “jelas Ahmad Saifullah.
Selain menerima materi bimbingan teknis penyusunan SKP, peserta juga diberikan lembar kerja untuk praktik menghitung kebutuhan angka kredit sesuai dengan pangkat dan golongan masing-masing. Kebutuhan angka kredit 4 tahunan yang kemudian di breakdown menjadi SKP tahunan. Peserta juga diberikan kesempatan untuk bertanya dan mempresentasikan hasil kerjanya. Bahkan, peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dari narasumber juga diberi rewards.
“Siapa yang bisamenyebutkan pangkat dan golongan guru serta jabatannya? Sebutkan secara urut dari golongan ruang IIIa sampai dengan IVe. Untuk bapak Ibu guru yang bisa menjawab akan saya berikan rewards,“tanya Ahmad Saifullah di sela-sela pemberian materi. Kegiatan berjalan lancar dan peserta antusias mengikuti pembinaan. “Alhamdulillah, meskipun kegiatan dilaksanakan siang hari menjelang sore, Bapak Ibu guru tetap semangat. Karena kita juga praktik menghitung angka kredit, BapakIbuyang semula tidak bisa atau tidak paham menghitung angka kredit danunsurasal perolehanangkakredittersebutmenjadi paham. Semoga kegiatan ini betul-betul bisa mengubah mindset kita bahwa menyusun SKP itu mudah,“tutur Budi Santosa, Waka Humas. Kegiatan pembinaan ditutup dengan ramah-tamah dan foto bersama. (Diana/ Kristanti)
INFORMASI PENDATAAN PROGRAM SAINS DAN TAHFIDZUL QUR’AN MTSN SURAKARTA 1 TP 2022/2023
INFORMASI PPDB PROGRAM SAINS DAN TAHFIDZUL QUR’AN
MTSN SURAKARTA 1
TAHUN PELAJARAN 2022/2023
Waktu Pendaftaran : 02 – 09 Maret 2022
Jam : 07.30 -12.00 Wib
Pelaksanaan : Online
Seleksi Test : 13 Maret 2022
Jam : 07.00 sampai selesai
Materi Test :
Test Akademik ( Matematika,IPA, Bahasa Indonesia)
Test BTA
Maqro (Program TQ)
Ujian dilaksanakan secara tertulis menggunakan LJK
Pengumumuman : 16 Maret 2022
Daftar Ulang : 18,19,21 Maret 2022
Syarat Pendaftaran
Mengisi Form Pendaftaran
Mengisi Data Pendaftaran
Nilai Raport SD/Mi Kelas IV semeseter 1,2 Kelas V semester 1,2 dan Kelas VI semester 1 (Mapel IPA,Bahasa Indonesia, Matematika)NISN
Piagam Kejuaraan bagi yang memiliki
Data Prestasi yang lain
Berkas yang diupload
Raport kelas IV,V,VI (format PDF file max 100 mb)
Piagam Kejuaraan bagi yang memiliki ( format PDF file max 10 mb) akademik /non akademik minimal tingkat kabupaten kota
Foto Ukuran 3 x 4 cm ( format foto,file max 10 mb)
Cara Mendaftar
Buka website : www.mtsn1surakarta.sch.id
Cari link https://ppdb.mtsn1surakarta.sch.id
Contac person:
Edi Hartanto, SPd (085702494518 ) jam kerja
WA Center MTsN Surakarta 1 ( 085326999961 )
TANTANGAN GURU PASCA PANDEMI
Rofikoh, S.S
Abstrak
Berlalunya pandemi merupakan sebuah anugerah yang harus disyukuri bersama. Setelah kurang
lebih dua tahun masyarakat merasakan keterbatasan dalam banyak aspek kehidupan, mulai akhir
tahun 2021 sendi-sendi kehidupan berangsur-angsur normal. Demikian juga dengan dunia
pendidikan. Pembelajaran yang selama pandemi dilaksanakan secara daring/online, sedikit demi
sedikit kembali dilaksanakan secara offline/tatap muka meskipun masih dilakukan dengan
beberapa pembatasan pada awalnya. Setelah pembelajaran tatap muka dilaksanakan selama
beberapa waktu, muncul masalah-masalah yang bisa dikatakan merupakan penegasan terhadap
peran guru/pendidik yang tidak bisa digantikan oleh teknologi semaju apapun. Selain itu,
masalah-masalah tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi guru/ pendidik untuk bisa
menemukan solusi untuk mengatasinya. Tantangan tersebut meliputi dua hal yaitu tantangan
akademik dan tantangan non-akademik.
Kata kunci: Pembelajaran, pandemi, pasca pandemi, tantangan akademik, tantangan
I. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu pilar penting dalam membangun sebuah peradaban. Pendidikan
Semakin maju bidang pendidikan sebuah negara, semakin besar kemungkinan sebuah negara
menjadi negara maju. Bangsa Indonesia dengan jelas menetapkan pendidikan sebagai salah satu
tujuan utama dalam pendirian negara. Hal tersebut termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yang
menyebutkan tentang tujuan pendidikan nasional, yaitu “ mencerdaskan kehidupan bangsa”. Islam
sebagai agama mayoritas warga negara Indonesia mendorong pemeluknya untuk mengedepankan
pendidikan seperti firman Alloh dalam Al Quran surat Al ‘alaq ayat 1 “ Iqra’ bismirabbikalladzii
khalaq” ( bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan) dan surat Al Mujadalah ayat 11 “
yarfa’illaahulladziina aamanuu minkum walladziina uutul ‘ilma darajaat” ( Alloh meninggikan
kedudukan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu diantara kamu). Dua
ayat tersebut menegaskan bahwa pendidikan merupakan sektor penting yang harus mendapatkan
perhatian yang besar dari berbagai pihak yang terkait. Selain itu, secara individual, pendidikan
menjadi salah satu bentuk investasi yang menjanjikan untuk masa depan. Berlalunya pandemi
tidak berarti berlalunya masalah. Apabila dilihat dari sisi kesehatan, hal tersebut memang benar.
Ancaman kematian massal sudah berlalu. Akan tetapi, dalam bidang pendidikan, ada beberapa
masalah yang secara umum dirasakan para guru sebagai akibat dari pembelajaran daring selama
pandemi. Masalah tersebut memerlukan perhatian yang besar dari berbagai pihak, termasuk guru
sebagai salah satu elemen penting dalam pendidikan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, pendidik tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
tantangan guru pasca pandemi pada peserta didik Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Surakarta kelas
7.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Belajar dan pembelajaran adalah kegiatan penting yang saling terkait dalam pendidikan. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI), belajar memiliki arti : (1) berusaha memperoleh
kepandaian atau ilmu; (2) berlatih; dan (3) berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan
oleh pengalaman. Ketiga arti tersebut merujuk pada perubahan pengetahuan dan tingkah laku
sebagai hasil dari proses belajar. Hal ini selaras dengan dengan Al Quran Surat Al ‘alaq ayat 5 “
“Allamal insaana maa lam ya’lam” ( yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya)
dan juga hadist Nabi Muhammad SAW “ innamaa bu’istu liutammima makaarimal akhlaaq “ (
sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak). Hal ini juga sesuai dengan tujuan
pendidikan nasional berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 : Tujuan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Proses belajar berjalan setiap saat, karena pada dasarnya setiap individu akan selalu mendapatkan
pengalaman dari interaksi dengan individu lain maupun lingkungan sekitarnya. Sementara itu,
menurut KBBI juga, pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk
hidup belajar. Pembelajaran menyoroti bagaimana peranan sekolah, guru, bahan ajar, metode, dan
interaksi dengan peserta didik yang mendukung dan memotivasi untuk belajar. Kegiatan Belajar
Mengajar atau yang biasa disingkat dengan KBM adalah merupakan keterpaduan antara belajar
dan pembelajaran. Sekarang ini, KBM menjadi wahana belajar semua unsur yang terlibat di
dalamnya, tidak hanya peserta didik yang belajar dari gurunya saja, tetapi juga guru belajar dari
peserta didik juga. Kembali ke arti belajar sebagai perubahan perilaku, maka semua unsur KBM
bisa dipastikan mengalami proses belajar. Guru akan berusaha membagikan pengetahuannya dan
membentuk tingkah laku para peserta didik, sebaliknya umpan balik dan interaksi dengan peserta
didik mendorong guru untuk selalu membuat perbaikan berkelanjutan agar KBM selalu efektif dan
berhasil baik.
Sekarang ini, muncul permasalahan sebagai dampak dari pembelajaran online selama pandemi di
mana guru praktis hanya bisa berinteraksi dengan peserta didik melalui Learning Management
System (LMS) seperti Moodle sebagai portal untuk mengakses materi ajar dan berinteraksi antara
guru dan peserta didik; penggunaan aplikasi pertemuan seperti Zoom, Google Meet, Microsoft
Teams, atau paling sederhana melalui grup WA atau telegram. Interaksi yang dilakukan dari jarak
jauh tersebut menghadapi beberapa kendala seperti terbatasnya ketersediaan jaringan internet,
terbatasnya fasilitas fasilitas yang dimiliki guru maupun peserta didik. Ketersediaan jaringan
internet dan fasilitas erat kaitannya dengan kondisi ekonomi. Akhirnya pembelajaran dilaksanakan
sebisanya. Di sisi lain, peserta didik yang dapat mengakses jaringan internet dengan mudah,
mengandalkan google dalam mengerjakan tugas sehingga membentu karakter yang kurang baik
seperti, tidak mau bekerja keras, menyukai hal yang instant, orientasi hanya pada nilai tidak pada
proses. Hal ini mengakibatkan kompetensi yang dicapai peserta didik rendah. Bahkan salah satu
guru matematika menyampaikan untuk perkalian dan pembagian sederhana yang seharusnya
sudah dikuasai di sekolah dasar, peserta didik kelas 7 masih mengalami kesulitan.
Masalah lain yang tidak kalah pentingnya dari masalah akademik adalah masalah akhlak.
Kurangnya interaksi dengan guru dan kurangnya kontrol orang tua terhadap proses pembelajaran
anak, terlebih bagi yang kedua orang tuanya bekerja semua hingga sore hari dikarenakan
kesibukan dalam bekerja, memungkinkan anak bebas memegang HP dan dapat mengakses semua
informasi yang dia mau tanpa adanya filter. Hal ini memberi pengaruh negatif yang sangat kuat
pada anak. Kata-kata makian, cacian yang sering ditemui di media sosial akhirnya menjadi ucapan
sehari-hari. Tata krama dan unggah-ungguh semakin lama semakin menipis. Selain itu, kebiasaan
melihat hal-hal yang berbau porno juga berakibat fatal pada pola pergaulan. Yang paling sering
ditemui dan agak sulit ditangani adalah kecanduan game. Kebiasaan anak main game berjam-jam
sehingga tidak mengenal waktu dapat menyebabkan lupa kegiatan lainnya. Yang lebih parah,
adalah gangguan syaraf yang penyembuhannya memerlukan waktu yang sangat lama.
METODOLOGI PENELITIAN
Subyek dalam penelitian ini adalah 54 siswa MTsN 1 Surakarta yang terbagi dalam kelas 7 sains
1, 7 sains 2, dan 7 TQ. Masing-masing kelas terdiri dari 28 siswa.
Obyek dalam penelitian ini adalah kemampuan awal siswa dalam pelajaran bahasa Inggris dan
ujaran-ujaran negatif yang sering diucapkan siswa ketika berinteraksi dengan temannya, serta
kasus-kasus kesulitan belajar yang terjadi karena dampak pandemi.
Penelitian dilakukan dengan melakukan observasi terlebih dahulu kemudian menentukan aspek
yang akan diteliti. Aspek yang diamati mencakup kosakata bahasa Inggris yang dikuasai siswa,
ujaran-ujaran negatif yang sering diucapkan siswa ketika berinteraksi dengan temannya baik
interaksi langsung maupun melalui social media., serta kasus kesulitan belajar yang dialami siswa.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian pada aspek pertama yaitu kosakata bahasa Inggris yang dikuasai siswa, dilakukan
dengan game. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kemudian masing-masih kelompok diberi
abjad A-Z dengan masing-masing huruf berjumlah 5. Aturan permainannya adalah sebagai
berikut:
1. Masing-masing kelompok diundi untuk menentukan siapa yang berhak meletakkan huruf
pertama kali.
2. Kelompok kedua dst akan menambah 1 huruf sehingga diharapkan dalam satu putaran akan
tersusun 1 kata simple dalam bahasa Inggris tentang benda-benda yang ada disekitar
mereka.
3. Hal itu dilakukan secara bergantian dan terus menerus sampai persediaan huruf habis.
Dalam prakteknya, siswa masih kesulitan merangkai kata-kata meskipun tentang benda atau
sesuatu di sekitar mereka.
Pengamatan pada aspek kedua, ujaran-ujaran negatif yang sering diucapkan siswa dilakukan
dengan sengaja telat masuk ke dalam kelas selama beberapa menit dan mendengarkan interaksi
dan ucapan-ucapan yang dilontarkan siswa ketika berinteraksi dengan teman-temannya. Kata-kata
seperti anjir, anying, anjrit, jancuk dsb terlontar dengan begitu fasihnya dari mulut mereka. Ketika
masuk kelas, saya ajak mereka berbicara. Ketika saya tanyakan apa arti dari ujaran-ujaran tersebut,
banyak yang tidak tahu. Mereka mendapatkan itu dari sosial media dan merasa mengikuti tren
ketika ikut menggunakannya.
Pengamatan pada aspek ketiga, kasus kesulitan belajar sebagai dampak pandemi dilakukan dengan
wawancara terhadap guru BK. Ada beberapa kasus siswa yang kecanduan game tetapi ada satu
siswa yang tingkat kecanduannya lumayan parah sampai tidak bisa mengikuti pembelajaran di
dalam kelas dan memerlukan pendampingan psikiater.











