Createde By : Ulis Manto, S.Pd

  1. LATAR BELAKANG PENELITIAN  

Kemajuan di bidang tekhnologi khususnya sistem komputer melalui jaringan semakin meningkat. Tekhonologi Informasi berbasis komputer dengan produk intemet nya merupakan jaringan publik. Keberadaannya sangat diperlukan baik sebagai media informasi maupun komunikasi yang dilakukan secara bebas. Salah satu pemanfaatan internet adalah pada sistem pembelajaran jarak jauh melalui belajar secara elektronik atau yang lebih dikenal dengan istilah E-Learning.

Pada tahun 2019 terjadi Pandemi COVID-19 yang merupakan peristiwa menyebarnya penyakit coronavirus  (bahasa inggris: coronavirus disease 2019, singkatan dari COVID-19) di seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2.Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi HubeiTiongkok pada tanggal 1 Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020.Hingga 17 September 2020, lebih dari 29.864.555 orang kasus telah dilaporkan lebih dari 210 negara dan wilayah seluruh dunia, mengakibatkan lebih dari 940.651 orang meninggal dunia dan lebih dari 20.317.519 orang sembuh.Upaya terus dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona ini termasuk pembatasan perjalanan, karantina pemberlakuan jam malam, penundaan dan pembatalan acara, serta penutupan fasilitas. Sekolah dan universitas telah ditutup baik secara nasional atau lokal di lebih dari 124 negara dan memengaruhi lebih dari 1,2 miliar siswa. Kebutuhan Proses belajar mengajar agak sedikit terhambat akibat pandemic ini sehingga kegiatan belajar mengajar di Sekolah menjadi lumpuh.

Menyikapi dua fenomena di atas, yaitu pandemi Covid 19 dan berkembangnya pembelajaran via E-Learning maka Kementerian Agama tahun ini mulai menerapkan penggunaan E-Learning Madrasah dalam pembelajaran. Hal ini disampaikan oleh Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A Umar.”Saat ini, sudah lebih dari ribuan madrasah dengan puluhan ribu guru dan siswa yang telah menggunakan E-learning madrasah,” terang Umar di Jakarta, Selasa (17/03). Umar menjelaskan, madrasah terus berinovasi dalam bidang terknologi informasi. Misalnya, Kemenag menggagas  pembelajaran berbasis online atau e-Learning Madrasah. “Dalam E-Learning Madrasah, siswa-siswi mendapatkan beragam fitur yang mampu memudahkan mereka mendapatkan informasi serta pembelajaran dengan cepat,” tuturnya. Selain siswa siswi, terdapat lima user lain yang dapat mengakses e–Learning Madrasah yaitu untuk Operator Madrasah, guru mata pelajaran, guru bimbingan konseling, wali kelas dan kepala madrasah. Masing-masing memiliki user sendiri untuk masuk ke dalam aplikasi e-Learning Madrasah, kapanpun dan dimanapun. E-Learning madrasah dilengkapi dengan beberpa fitur, diantaranya:

  1. Kelas Online

Fitur kelas online berisi konten mulai dari awal proses pembelajaran, pembuatan standar kompetensi, rencana pelaksanaan pembelajaran(RPP), materi pembelajaran, jurnal guru, pengolahan penilaian harian, ujian berbasis komputer (CBT) hingga pengolahan nilai rapor.

  1. Guru Berbagi

Fitur guru berbagi ini adalah platform yang akan menampung kreatifitas guru madrasah di seluruh Indonesia untuk saling berbagi informasi apapun yang bermanfaat. Guru hanya tinggal memposting informasi tersebut dalam kolom dengan mudah. Selain itu, siapapun dapat berkomentar dan memberi masukkan, bahkan menyukai postingan tersebut.

 

  1. Forum Komunitas Madrasah

Dalam e–Learning Madrasah, siswa dan guru dapat dengan mudah berbagi ide dan membuka forum diskusi karena di dalamnya terdapat media sosial untuk saling berkomunikasi antara guru dan siswa. User juga dapat saling berkomentar dan berbagi ide atau gagasan dalam fitur chat.

Ilmu pengetahuan alam (IPA) merupakan ilmu yang mempelajari tentang gejala alam berupa fakta, konsep dan hukum yang telah teruji kebenarannya melalui suatu rangkaian penelitian. Pembelajaran IPA diharapkan dapat membantu siswa untuk memahami fenomena-fenomena alam. Berdasarkan karakteristiknya, pembelajaran IPA dapat dipandang dari dua sisi, yaitu pembelajaran IPA sebagai suatu produk hasil kerja ilmuwan dan pembelajaran IPA sebagai suatu proses sebagaimana ilmuwan bekerja agar menghasilkan ilmu pengetahuan. Pandangan IPA sebagai ilmuwan bekerja untuk menemukan ilmu pengetahuan, dalam proses pembelajarannya menempatkan siswa sebagai seseorang yang mencari, mengolah dan menemukan sendiri bagaimana ilmu pengetahuan yang dihasilkan. Siswa dilatih untuk dapat mengenali fakta, mengetahui perbedaan dan persamaan fakta, mencari hubungan antar fakta sehingga siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Siswa dapat mengetahui bagaimana suatu ilmu pengetahuan ditemukan sehingga dapat dengan mudah untuk menerapkan ilmu pengetahuan dalam mengambil keputusan. Pembelajaran IPA yang memberikan kesempatan siswa untuk mengkonstruksi konsep sendiri, akan memberikan pengalaman langsung untuk menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran IPA dengan memberikan pengalaman langsung dapat menumbuhkan cognitive thingking skill (keterampilan berpikir kognitif), psychomotor skills (keterampilan psikomotorik) dan social skills (keterampilan sosial). Keberhasilan pembelajaran IPA di sekolah tidak lepas dari perencanaan strategi pembelajaran yang tepat dan perangkat pembelajaran yang digunakan guru di dalam kelas. Setiap strategi pembelajaran membutuhkan perangkat pembelajaran yang berbeda untuk mencapai tujuan pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang dimaksud dalam hal ini adalah rancangan pembelajaran, sajian konten dalam bentuk buku ajar, media pembelajaran dan alat-alat praktikum yang digunakan. Pembelajaran IPA dalam menampilkan suatu fenomena dapat disajikan dalam bentuk tiga representasi yaitu makroskopis, sub mikroskopis dan simbolis, misalnya dalam pembelajaran konsep kimia. Oleh karena itu, untuk memudahkan siswa memahami suatu konsep IPA yang terdiri dari tiga representasi ini, diperlukan perangkat pembelajaran yang dapat menampilkan tiga representasi tersebut sehingga siswa dapat memahami materi dengan baik dan benar.

Penerapan e-learning pada proses kegiatan belajar mengajar terutama mata pelajaran IPA menimbulkan masalah tersendiri pada guru pengampu dan siswa yang belajar. Karakteristik IPA sebagaimana jabaran di atas menunjukkan adanya kelebihan dan kekurangan apabila menggunakan aplikasi e-learning ini. Hal ini sebagaimana yang dirasakan oleh guru maupun siswa di kota Surakarta. Sebagian besar siswa merasa sangat terbantu dengan adanya aplikasi e-learning ini akan tetapi pada kondisi yang lain siswa merasa bahwa aplikasi ini belum sepenuhnya bisa menunjang kegiatan belajar mengajar secara efektif. Berdasarkan kajian di atas, tentang karakteristik IPA dan aplikasi e-learning madrasah serta masalah yang ditemui dalam penerapannya maka penulis tertarik untuk meneliti kekurangan dan kelebihan aplikasi e-learning dalam menunjang keberhasilan kegiatan pembelajaran selama masa pandemi Covid 19 khususnya menurut siswa kelas IX madrasah tsanawiyah di kota Surakarta

  1. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mengetahui tingkat kepuasan siswa kelas IX MTs N Surakarta 1dalam menggunakan aplikasi e-learningmata pelajaran IPA
  2. Mendapatkan data kelebihan/keunggulan e-learning dalam belajar IPA menurut siswa kelas IX MTs N Surakarta 1
  3. Mendapatkan data kekurangan/kelemahan e-learning dalam belajar IPA menurut siswa kelas IX MTs N Surakarta 1
  4. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara umum dan manfaat khusus

  1. Manfaat Umum

Memberikan referensi untuk pengembang e-learning madrasah tentang kelebihan dan kekurangan aplikasi e-elearning madrasah yang dirasakan oleh siswa

  1. Manfaat Khusus
  1. Memberikan informasi kepada madrasah tentang kepuasan siswa menggunakan e-learning mata pelajaran IPA
  2. Memberikan informasi tentang kelebihan dan kekurangan e-learning mata pelajaran IPA menurut siswa kelas IX MTs N Surakarta 1 sebagai bahan pertimbangan untuk pengembangan e-learning di masa mendatang

 

  1. METODE PENELITIAN
  2. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian menggunakan metode kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan multi strategi, strategi-strategi yang bersifat interaktif, seperti observasi langsung, observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumen-dokumen, teknik-teknik pelengkap seperti foto, rekaman, dan sebagainya. Dalam penelitian ini juga menggunakan metode penelitian deskriptif. Penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia.

  1. Populasi dan Sampel Penelitian
  2. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 9 MTs N Surakarta 1 yang berjumlah 308 pada tahun 2021

  1. Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 siswa MTs N Surakarta 1 tahun 2021

  1. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai yang dikehendaki peneliti dan direkomendasikan oleh pihak guru sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan wawancara, kuesioner (angket), dan observasi .

  1. Interview (Wawancara)

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil.Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan dengan tatap muka maupun lewat telepon.

  1. Kuisioner (angket)

Kuesioner merupakan alat teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden

  1. Observasi

Dalam menggunakan observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen pertimbangan kemudian format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan. Dari peneliti berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian kepada skala bertingkat.

  1. HASIL PENELITIAN
  2. Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Aplikasi E-Learning Madrasah

Teknik yang digunakan untuk mendapatkan hasil tingkat kepuasan adalah menggunakan survey (kuisioner) secara online dengan bantuan g-form. Dari 100 responden didapatkan tingkat kepuasan siswa dalam tabel berikut;

No Tingkat Kepuasan Jumlah Responden
1 Tidak Puas 6
2 Cukup Puas 14
3 Puas 42
4 Sangat Puas 38

Tabel 5.1. Hasil survey tingkat kepuasan siswa

Secara grafik tingkat kepuasan siswa ditunjukkan sebagai berikut;

 

Gambar 5.1 Grafik survey tingkat kepuasan siswa

 

  1. Kelebihan E-Learning

Melalui e-angket (g-form) penulis merangkum kelebihan e-learning menurut para siswa. Kelebihan e-learning versi siswa secara garis besar sebagai berikut;

  1. Murah dan praktis – Dengan bermodalkan paket data internet saja siswa dapat mengakses materi pembelajaran yang mereka inginkan tanpa harus khawatir ketinggalan pelajaran apabila tidak hadir
  2. Mudah diakses – Aplikasi e-learning madrasah dibuat dengan sistem yang mudah diakses, siswa hanya tinggal memasukan username dan password yang sudah disiapkan oleh madrasah masing-masing
  3. Belajar dimana saja dan kapan saja – fasilitas yang disediakan oleh e-learning memiliki keunggulan ringan dalam penggunaan sehingga bisa diakses dengan mudah menggunakan HP, hal ini memudahkan siswa belajar dimana saja dan kapan saja
  4. Tingkat pemahaman yang lebih baik – Terkadang faktor penghambat dari kegiatan pembelajaran adalah cara penyampaian materi seorang pengajar yang cukup susah dipahami. Melalui e-learning siswa bisa mencari konten materi yang memiliki penyampaian yang mudah dipahami seperti melalui video dan gambar yang diberikan tautan link oleh guru
  5. Mandiri – Berbeda dengan pembelajaran tatap muka, melalui e-learning siswa dapat terbiasa mencari materi yang ia tahu tanpa harus selalu bertanya kepada guru yang ada dikelas. Guru bisa memberikan rekomendasi link pembelajaran untuk diakses siswa secara mandiri
  1. KekuranganE-Learning

Melalui e-angket (g-form) penulis merangkum kekurangane-learning menurut para siswa. Kekurangane-learning versi siswa secara garis besar sebagai berikut;

  1. Interaksi dengan guru menjadi terbatas
  2. Khusus untuk pembelajaran IPA, materi yang berkaitan dengan perhitungan menjadi lebih susah untuk dipahami
  3. Pada saat tertentu terjadi kesulitan untuk masuk aplikasi
  4. Interaksi antar siswa (hubungan sosial) menjadi berkurang (rendah)
  5. Pesan moral dari guru sangat berkurang

 

 

 

  1. KESIMPULAN

Aplikasi e-learning sangat membantu proses pembelajaran di masa pandemi. Aplikasi ini mudah diakses dan tidak memerlukan kuota yang besar. Secara garis besar siswa merasakan tingkat kepuasan yang baik saat menggunakan aplikasi ini, mudah diakses kapan saja dan dimana saja, meskipun terkadang siswa mengalami kendala saat melakukan akses tapi kendala ini masih mudah untuk diatasi. Aplikasi yang mudah dan praktis digunakan cukup membantu siswa untuk belajar meskipun tidak bisa mengikuti kelas sesuai dengan jadwal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. DAFTARPUSTAKA

Anonim.2020. Kemenag Mulai Terapkan e-Learning Madrasah. https://kemenag.go.id/berita/read/513026.

Ida Fitriyati, Adi Hidayat dan Munzil. 2017. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Ipa Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Dan Penalaran Ilmiah Siswa Sekolah Menengah Pertamahttp://journal2.um.ac.id/index.php/jpsi/article/viewFile/651/791.

Fauziah, Nur. 2015. Efektivitas Penggunaan Alat Bantu Reaksi Gerakan Tangan Bagi Kaum Disabilitas.  http://repository.upi.edu/20109/6/S_TE_1102479_Chapter3.pdf. (24 September 2020).

M Ridwan. 2011. Konsep E-Learning Landasan Teori. http://digilib.uinsby.ac.id/9101/4/bab2.pdf .

Sugiono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D . Bandung : Alfabeta

Rubino Rubiyanto. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Agusta Ivanovich. 2009. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Kualitatif.

Abdullah. 1998. Karakteristik IPA. Bandung: UPI Press.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here